Tampilkan postingan dengan label Chicken Soup Edisi 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicken Soup Edisi 4. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

CS 4/4: Push Up 50x buat Agil

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi 4 "Aksi Orang (yang dianggap) Biasa"
Volume 4: Push Up 50x buat Agil

Agil memonyongkan bibirnya lima sentimeter. Lama-lama kesal juga kualitasnya dibilang jelek, jelek, dan jelek oleh manajemen ANN Jateng. Padahal, ia sudah berusaha memperbaiki dengan sekuat tenaga. Belum lekang kesalnya itu, Firto (salah satu personil manajemen) menambahi gelar manja karena ia dianggap terlalu memberi pemakluman pada setiap kelemahannya.

Beberapa waktu lalu, ia tampil dikonser amal Merapi. Firto diamanahi untuk mempersiapkan perfom n’FE, timnya Agil. Sekonyong-konyong, personil manajemen itu mengeluarkan kata yang memerahkan telinganya.

“Kalian kan masih jelek tuh pecah suaranya. Jadi, aku mau perfom kalian bagus. Kalo perfom bagus, perhatian penonton akan terbelah antara memperhatikan vokal dan perfom,”

“Iya Mas,” seru Agil.
“Sekarang, semua personil kasih sepuluh ribu ke aku!”
“Buat apa, Mas?” tanya Raka, teman Agil di n’FE
“Kalo perfom kalian nanti jelek, kalian harus mentraktir aku dengan uang itu,”
“Ih, matre,” sindir Agil.

“Ya kalau gak dipaksa, kalian gak akan menampilkan perfom bagus, apalagi si Agil. Pasti takut uangnya diambil. Iya kan?” Firto balik menyindir. Alhasil, sesuai jumlah personil n’Fe yang berempat, Firto menahan uang mereka sebanyak 40 ribu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih. n'Fe sukses besar…gagalnya. Perfom mereka gatot alias gagal total. Entah kenapa wajah mereka susah diajak kompromi. Sudah dipaksa-paksa, tapi tetap saja si kaku bin grogi terukir disana. Agil gundah. Sempat dilihatnya Firto tersenyum penuh kemenangan seraya mengibar-ngibarkan uang 40 ribu, yang akan menjadi miliknya.

Entah kerasukan apa, Firto berubah pikiran. Uang tahanan itu ia kembalikan lagi. He he he, cuma ngancam doang ternyata, kira-kira begitulah pikiran Agil. Sudah sering Firto memperingatkannya. Saat Agil mendadak tidak mau ikut sebuah festival, karena si doi trauma dengan yang namanya festival, Firto juga mengancam. Namun, dia tidak memberikan sanksi atas ancamannya itu.

Nopember tiba. Setiap munsyid ANN Jateng harus setor target pribadi bulanan ke manajemen ANN Jateng. Macam-macam target mereka. Ada yang menargetkan membuat 15 lagu dalam sebulan, ada yang ingin les privat alat musik, ada yang bermimpi meningkatkan ambitus suara. Ragam target ini membuat Agil bingung.

“Tulis aja target pesanan saya, Dek,” saran Firto ramah. Agil pun menuruti.
“Tulisannya begini, pada tanggal 15 Nopember saya akan setor 5 lagu ciptaan saya pada Firto,” kata Firto.

“Setiap 1 lagu yang tidak bisa kamu buat, kamu akan push up 50 kali lho Dek. Jadi, jika tidak bisa buat 5 lagu, kamu akan push up sebanyak 250 kali,” kata Firto tenang. Ah, paling cuma ngancem.

15 Nopember tiba. Sedikit panik, Agil menemui Firto. Sebuah ekspresi sendu ia siapkan.
“Mas, maaf aku baru jadi satu lagu nih Mas,” Agil memasang tampang memelas.
“Oh ya? Kalo begitu silahkan push up 200 kali,” kata Firto dingin.
“Ih kejam! Beri aku waktu dua hari atau tiga hari, Mas,”
“Selesaikan 4 lagu itu dalam waktu sejam!” ujar Firto seraya meninggalkan ruangan studio latihan.
“Gak mungkin, Mas,”
“Bodo amat! Aku gak peduli. Yang lain aja bisa,”

Tegang. Laptop Agil sedari tadi menanti jemari pemiliknya menuliskan lirik. Sampai waktu tenggang habis, Agil hanya bisa menyelesaikan 4 lagu. Terpaksa ia mempresentasikan 4 lagu itu pada Firto dan 3 panelis lain (Hans Syahdu, Azmi The CS, dan Trian manajemen).

“Oke, Gil. Terima kasih atas presentasinya. Sekarang silahkan ambil posisi push up. 50 kali ya,” kata Firto. Sesaat Agil terpana.
“Serius Mas? Sekarang?”
“Iya. Kapan lagi?” Firto balik bertanya

Malam makin larut. Saat semua mulai lelah, Agil malah berpacu dengan hitungan push up dari Firto. Tak sabar seruan 50 itu terlempar dari lisan Sang Manajemen. Firto tak peduli dengan kicauan ‘Kasihan! Anak orang itu’. Dia terus menghitung jumlah push up yang dilakukan Agil.

“Aku melakukan ini karena aku cinta dengan adikku itu. Jika aku terus membiarkannya manja, aku akan menjerumuskannya ke penyesalan yang lebih sakit dan melelahkan dibanding ini (push up 50 kali),” pelan kata itu terlantun dari Firto.

Malam makin larut. Meski lelah, Agil bisa sedikit tersenyum. Salah satu lagu yang ia buat dalam waktu 1 jam dianggap sangat bagus oleh para panelis. 1 jam ternyata cukup untuk membuat lagu (meski dengan teknik kepepet ^_^)

CS 4/3: Dia Milik Siapa?

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi 4 "Aksi Orang (yang dianggap) Biasa"
Volume 3: Dia Milik Siapa?

“Hidup itu indah bukan oleh seberapa banyak orang mengenal kita, tapi oleh seberapa banyak orang bahagia mengenal kita.”

Jika nasyid lovers jeli, biasanya dalam kebanyakan berita ANN, manajemen akan mencantumkan asal tim subjek berita, misalnya Saut The CS, Hans Syahdu, atau Bahtera Mahiba. Beberapa tokoh, seperti Aris atau Firto, tidak digelari embel-embel karena menjadi milik bersama. Namun, akhir-akhir ini tidak hanya kru manajemen, tetapi seorang munsyid diperlakukan serupa.

Dia adalah Redi. Seorang munsyid yang sering dijuluki Apgan (gak pake F), karena wajahnya mirip seorang penyanyi terkenal. Pemuda ini adalah personil Sieben, sebuah tim yang harus jungkirbalik untuk bertahan di ANN Jateng.

Redi sesungguhnya tidak berkualitas jelek. Gelar penyanyi terbaik di kota asalnya, menggambarkan kemampuannya. Tapi, dia dianggap orang biasa, karena berada dalam tim gurem.

Skenario hidup membuat Redi dipinjamkan pada The CS. Tim itu harus mengikuti sebuah kompetisi regional Jateng-DIY-Jatim, namun formasinya tidak lengkap. Tak dinyana, The CS tampil sebagai juara. Bahkan manajemen ANN menobatkan formasi itu sebagai formasi terbaik The CS.

Entah memang sudah jalannya, Tomi The CS memilih pensiun, Saut The CS berkali-kali tidak bisa ikut di banyak event penting. Praktis Redi menambal formasi itu dalam kurun yang sangat lama. Sampai-sampai Redi lebih dikenal sebagai Redi The CS ketimbang Redi Sieben (suatu nama yang awalnya ditolak keras oleh Firto, manajer The CS saat itu). Bahkan tanpa perlu waktu lama, Redi dan The CS tak terpisah. Baik saat latihan, saat tampil, maupun keseharian, mereka terlihat sangat akrab. Membuat Firto dikelilingi 1001 gundah. Akhirnya, Redi pun diikutkan dalam rekaman single ke-5 The CS sebagai tanda terima kasih atas bantuannya.

Skenario indah itu berlanjut dengan terpilihnya Redi sebagai partner duet Iie The CS. Dua orang ini dikaderisasi untuk the next tim Naufal. Usut punya usut, ternyata berduet dengan Iie merupakan impian Redi sejak lama. Redi pun digelari sebagai Redi Naufal. Tak lama kemudian, Redi diberdayakan pula di Syahdu, menggantikan Hans yang mulai purna tugas.

Perlahan Redi mulai menanjak kariernya, sekaligus diliputi kebimbangan. Akankah dia tetap bertahan di Sieben, yang masa sekarangnya tidak secerah Naufal, Syahdu, atau The CS? Apalagi jadwalnya semakin padat. Pilihan bertahan semakin menjauh dari hatinya.

Manajemen ANN tidak berdiam diri. Mereka mengaudisi puluhan kandidat pengganti Redi, namun hasilnya nihil. Melihat gurat kegembiraan Redi di The CS, sebenarnya teman-teman Sieben sudah mengikhlaskannya. Apalagi kabar dikeluarkannya Sieben dari ANN semakin memanas, karena kualitas mereka tak kunjung membaik meski mendapat berbagai treatment. Paling tidak, ada satu orang dari mereka yang sukses.

Sampai suatu saat, sebuah peristiwa menyentaknya. Lagu ke-5 The CS tentang sahabat justru membuatnya berlinangan air mata. Dia teringat berbagai kisahnya bersama Sieben. Kisah tentang malunya ia bernyanyi diiringi acapella fals, kisah tawa ceria mereka saat latihan, kisah mereka tampil dengan mic ala kadarnya, tampil di kampus-kampus dengan roti, kue atau buah sebagai bentuk terima kasihnya. Semua terblender membentuk rindu.

Redi memantapkan hati untuk bertahan di Sieben, walaupun usia tim itu tinggal menghitung hari. Namun, ternyata Allah tidak mengijinkan kematian Sieben. Beberapa perantara-Nya hadir membantu. Firto mengambil alih manajemen Sieben. Dengan kejam ia melecut motivasi tim, sesuatu yang kurang dimiliki Sieben. Iie The CS pun turun tangan menjadi pelatih Sieben. Hans Syahdu menjadi arranger vokal lagu-lagu Sieben. Berbagi itu berbuah hasil. Sieben mulai menuai prestasi. Syahdu, The CS, dan Sieben pun kian dekat. Kini, Redi tidak lagi menjadi orang biasa, tetapi menjadi orang yang paling beruntung karena bisa berada dalam 4 tim dalam rentang waktu yang tidak berbeda.

“Kalianlah Sahabat. Genggam tanganku erat. Melalui rintangan. Hadapi tantangan. Kita kan bersama. (Senandung Untuk Sahabat – The CS dengan formasi Redi-Iie-Dek Iie-Saut-Azmi-Leon)

CS 4/2: Mister Ya, Ya, dan Oke!

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi 4 "Aksi Orang (yang dianggap) Biasa"
Volume 1: Mister Ya, Ya, dan Oke!

“Tidak bisa dan tidak mau itu tidak boleh tertukar urutannya. Kebanyakan dari kita berkata tidak bisa, padahal belum mencoba. Jadi bagaimana kita bisa menyimpulkan tidak bisa, kemudian tidak mau, padahal belum mencobanya?”

Namanya Huda. Masuk dalam tim Mahiba membuatnya diembel-embeli Huda Mahiba. Orangnya kutilang alias kurus tinggi langsing, dengan rambut kriwil-kriwil. Huda adalah anggota ANN termuda. Diantara sekian banyak kepala, Huda menjadi suara paling nge-bass. Saking nge-bassnya, banyak orang yang sengaja berbicara dengannya menggunakan volume bass.

Dibanding dengan personil Mahiba lain, Huda jelas kalah pamor. Dia hanya dikenal sebagai sosok pendiam dan sepertinya tidak punya kemampuan lebih dibanding yang lain. Apalagi selama ini, dia hanyalah follower dengan kata idem di setiap aksi.

Sampai suatu saat, waktu pembuktian itu tiba. Di luar prediksi Mahiba, manajemen ANN menunjuknya sebagai mas’ul Mahiba. Semua terperangah dan bertanya-tanya: apa iya, anak ini bisa? Tanpa banyak pembelaan diri (saking pendiamnya), Huda pun tak berkutik dan mengiyakan.

Dua minggu berlalu, Huda menjelma menjadi Si Mister Oke, yang selalu berkata ya, ya, dan oke untuk setiap tugasnya. Tapi, semua tugas itu beres dan lancar total. Walau sempat keluar protes dari personil lain, karena si pendiam itu tidak pandai merangkai kata, akhirnya SMS koordinasi yang dibuatnya terasa kasar. Tidak banyak bicara dan segera beraksi, itulah Huda.

Rasanya masih segar sejarah pengangkatannya menjadi numero uno di Mahiba, sekonyong-konyong manajemen menetapkannya menjadi ketua ANN Jateng di masa transisi. Tanpa banyak berkata, Huda menjawab ya. Padahal, sosoknya pasti akan dibandingkan dengan Aris (ketua ANN wilayah yang paling terkenal se-Indonesia. He he he, hiperbola mode on).

Satu bulan. Hanya satu bulan tugasnya menjadi ketua ANN Jateng. Tapi, dia berhasil membuat perubahan besar, diantaranya membuat studio berperedam untuk ANN, merombak kantor lebih efisien, dan membuat event kebersamaan antar tim. Munsyid antar tim pun ia koordinasikan bahu membahu melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.

Jika sebagian kepala akan mengeluarkan seribu alasan pembelaan saat dikritik, maka Huda hanya menjawab ya, ya, oke, dan segera memperbaikinya. Alhasil, Huda mulai belajar memilih kata, agar SMS terlihat menyenangkan. Pemuda kutilang ini pun berlatih public relation yang luwes. Sampai timbul komentar, “Wah, Huda sekarang berubah,”. Sekali lagi, hanya dalam 1 bulan.

Pemuda yang seharusnya punya senjata kuat untuk menolak amanah, dengan rupa pendiam dan alasan bukan aktivis itu, kini malah menjelma menjadi pemimpin hebat. Hanya dengan ya, ya, dan oke.

CS 4/1: Buah Kekejaman

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi 4 "Aksi Orang (yang dianggap) Biasa"
Volume 1: Buah Kekejaman

"Kejamlah pada diri sendiri. Jika tidak, dunia akan kejam padamu" 

Anggit SIEBEN adalah seorang munsyid berpredikat just so so alias biasa saja. Padahal, dia bernasyid sudah satu setengah tahun. Tidak ada yang istimewa darinya. Dirinya hanyalah bass acapella dari tim, yang dicap sebagai tim terburuk di ANN Jateng. Saking biasanya, beberapa munsyid ANN Jateng bahkan ada yang lupa nama pemuda itu. Hanya kenal wajah saja. Maklum, keluarga besar ANN Jateng yang berusia tiga tahun ini mencapai hampir kepala seratus.

Hobi pemuda ini adalah menulis puisi. Entah sudah berapa lembar puisi yang diukirnya. Namun, sebulan yang lalu ritual menulisnya bertambah. Tepatnya sejak Firto diminta menjadi manajer sebulan bagi Sieben. Sekonyong-konyong, manajer yang sering disebut kejam itu memberi sebuah tugas membuat lagu pada Anggit. Satu minggu waktunya. Jujur, bagi Anggit tugas ini terasa berat.Dia belum pernah membuat lagu sekalipun. Apalagi dia adalah aktivis kampus berjuluk sibuker.

Tepat tujuh hari berlalu, Anggit belum jua mampu membuat satu lagu fix. Panik ia. Tersisa beberapa menit sebelum presentasi karya, Anggit memilih mojok di dapur kantor ANN. Tak dipedulikannya panggilan-panggilan Firto yang menghororkan suasana. Serius ia membuat lagu dengan sistem super kebut. Kemampuannya menulis puisi ia aplikasikan dalam lagu. Ajaib! Tak dinyana Firto menyukai lagu itu, meski tak urung kritik pedas keluar juga.

Suka, bukan berarti selamat. Dengan cuek, sang manajer memintanya membuat 5 lagu dengan waktu seminggu. Ganjaran push up 50 kali untuk setiap 1 lagu yang tidak bisa dibikin, tentu membuat pemuda kurus itu mati gaya. Tak mau panggilan horor Firto terulang, Anggit ngebut membuat lagu. Hasilnya? Anggit bisa menyelesaikan 5 lagu itu hanya dalam 5 hari. 3 lagu bahkan dianggap Firto sangat bagus, sehingga sang manajer nyaris menitikkan air mata.

The End belumlah terpampang. Namun Anggit bisa tersenyum tenang, menghadapi tugas berikutnya : membuat 15 lagu dalam waktu 30 hari. Ditengah perintah ngamen di jalan, rekaman 2 lagu dalam sebulan, menjadi juara festival, latihan dengan pelatih intensif (tugas-tugas yang dibebankan Firto untuk Sieben dalam waktu sebulan), Anggit mampu menunaikannya.

NB: 
“Untuk maju, seringkali kita hanya perlu memaksa diri untuk keluar dari comfort zone hidup kita.”