Tampilkan postingan dengan label Chicken Soup Edisi Spesial Awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicken Soup Edisi Spesial Awan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

CS Awan: Sepasang Pemantik Kebaikan

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi Spesial Awan
Volume 4: Kisah Didik Awan (Choir 1)

Saya melihat Didik sebagai sosok munsyid yang biasa saja. Kadang jelek malah, ho ho ho. Selayaknya manusia, tentu ada kekurangan dan kelebihan yang terkalkulasi dalam penilaian saya tentangnya.

Sebagai munsyid, saya akan dengan mudah memaparkan kelemahan bernasyid pria berdarah Temanggung ini. Suaranya masuk kategori marginal (walah, istilah apa pula itu?), kalau jadi choir sering fals, belum lagi seabrek yang lain. Kalau dilihat dari sisi itu saja, rasanya tidak percaya dia hadir di sebuah tim yang beranjak ke dakwah nasional. Bahkan, seorang dosennya sendiri kebingungan, kenapa sosok ini dapat menembus sebuah kompetisi tarik suara stasiun televisi nasional.

“Suara kayak gitu kok bisa masuk,” kurang lebih begitulah celotehan Pendidik itu.

Itulah nasyid: ladang dakwah yang dibuat dari campuran vokal, perfom, kepribadian, dan semangat menyebarkan kebaikan. Selalu ada tempat buat mental entertain sekuat baja seperti Didik. Kegigihannya maju terus, sambil memperbaiki diri, membuat Didik terus hadir di Awan.

Dari semua pancarannya, yang membuat saya takjub adalah kasih sayangnya pada orang tua. Sebagai anak pertama, baru saja lulus S1, punya tanggungan adik kembar, tentu beban moral yang ditimpakan padanya amat besar. Kok memilih nasyid, bukannya langsung kerja? Saya yakin begitu banyak pertanyaan itu terlempar padanya.

Tapi, semuanya terjadi karena Allah meneguhkan hati orangtua Didik untuk memberi restu bernasyid. Restu itu memantikkan percikan kebaikan. Pengorbanan yang tiada sia untuk seorang anak berbakti itu.

Sungguh, saya tahu gejolak pemuda baik ini untuk membahagiakan kedua orang tua. Beberapa kali dia bercerita bahwa selama di perantauan, dia sering menyimpan cerita hal-hal tidak enak, hanya karena tidak ingin orangtuanya cemas. Sang Ibu punya gejala darah tinggi, yang membuatnya tidak boleh terkejut.

Dia juga berjuang untuk memberi kebanggaan kepada orangtuanya dengan bermimpi meneruskan S2 dengan jalur beasiswa. Beberapa kali dia melisankan tanya tentang prosedurnya kepada saya.

Sungguh, saya juga tahu betapa kompak dan dekatnya dia pada orangtuanya. Batin saya terkekeh, manakala dengan pede-nya di depan panggung berkata Didik “I Love You” pada ayah-ibunya yang tengah menonton.

Kini Sepasang Pemantik kebaikan itu tentu bangga. Didik hadir di sebuah kompetisi tarik suara nasional, dengan label nasyid lagi. Sang Ayah sempat berurai protes, manakala sang anak berpenampilan rada aneh di show pertama mereka. Sama seperti yang ia rasakan.

Tapi, dibalik semua itu, saya tetap bangga. Seorang anak gaul gila getho, akhirnya makin dekat pada-Nya dengan perantara nasyid (Satu hal yang membuat saya bangga dengan ANN Jateng karena keberagaman latar munsyid. Dari yang baru belajar sholat sampai dengan ikhwan tulen, ada. Bukan tempat baik, tapi tempat belajar baik ^_^).

Perlu proses bagi Didik untuk menjadi munsyid baik luar dalam. Tapi hadirnya Sepasang Pemantik Kebaikan, membuat tegar langkahnya disana. Saya yakin, Didik pun tak akan menyia-nyiakan mereka. Amin.

Terakhir, saya hanya berlisan, bila ingin melihat Sepasang Pemantik Kebaikan itu makin bangga dengan kiprah Didik, sudilah mengetik SI (spasi) AWAN dan mengirimnya ke 9910.

CS Awan: Aksi Si Buruk Suara

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi Spesial AWAN
Volume 3: Kisah Uki Awan (Perkusi)

Jika ada dongeng Si Buruk Rupa, maka saya tidak termasuk. Tapi, jika ada dongeng Si Buruk Suara, nah itu bisa jadi terinspirasi dari saya he he.

Nama saya Uki. Saya mungkin peserta Suara Indonesia dengan suara terjelek. Sadar diri, saya tentu tak akan mengambil alih suara Kiki sebagai lead vokal. Cukuplah saya ber tak-tik-tttah untuk memeriahkan Awan.

Ibarat film, dulu saya termasuk bagian dibuang sayang dari ANN Jateng. Beberapa petinggi ANN sempat bermaksud memecat saya dari personil Awan. Saya juga sadar bahwa saya jelek banget nyanyinya. Sempat beberapa personil Awan yang lain muring-muring karena kejelekan itu. Gak enak juga sih, tapi saya tutup kuping aja. Saya juga berusaha tegar menahan malu, manakala di sebuah lagu saya cuma kebagian membunyikan ‘ringkitiw’ dari awal sampai akhir.

Satu-satunya yang membuat saya bertahan di ANN Jateng adalah karena saya punya rasa PD yang tinggi. Saya PD meski suara saya jelek. Saya juga PD meski Awan tidak pernah menang sekalipun di Festival manapun. Dulu di Jawa Tengah, untuk acapella didominasi sebuah tim bernama Varian. Kadang timnya mas Alief dan mas Aris (mantan ketua ANN Jateng) masih ikut serta dalam festival dan tentunya menjadi jawara, sesuai prediksi saya. Kadang juga timnya mas Firto menjadi kuda hitam, memenangkan berbagai kejuaraan (Walau seringnya juara 3 he he. Peace Mas). Pokoknya kala itu saya menganggap kekalahan adalah hal yang biasa (maksudnya kita biasa kalah, luar biasa kalo menang he he).

Saat isu dipecatnya mulai memanas, tiba-tiba saya menyadari potensi saya, yaitu perkusi. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya pun belajar suara ini. Hanya suara ini. Saya tidak bermimpi belajar choir, apalagi lead vokal, karena saya tahu sekali kelemahan saya dalam hal harmonisasi suara.

Mulailah saya mengoleksi video-video sampai mp3 perkusi. Akhirnya, keajaiban itu muncul (huahaha). Saya melejit menjadi seorang perkusi, yang konon katanya perkusi-perkusi gaya saya banyak ditiru munsyid lain (Alhamdulillah). Tapi yang jelas, semoga dengan kebaikan dari Allah ini, kelak saya bisa menularkannya dengan mengajar langsung pada adik-adik saya, seperti Leon, Bahtera, dan Iqbal ANN Jateng, juga munsyid-munsyid lain di luar ANN. Amin.

CS Awan: Tua-tua Kelapa

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi Spesial AWAN
Volume 1: Kisah Hari Awan (Choir 2)

Perkenalkan, ane Hari Nugraha. Panggilan kerennya Nugie. Ane sudah bernasyid sejak SMA. Artinya dari awal sampe sekarang, sudah hampir sebelas tahun berkiprah di dunia ini. Tak heran, meski tampang ane imut (bukan item mutlak lho ya), ane tergolong munsyid yang palinggg tuir umurnya di Awan, bahkan di ANN Jateng sejagat raya. Insya Allah bertahan di nasyid karena dakwah. Bukan bertahan di dakwah karena nasyid, ho ho ho. Amin.

Waktu yang sangat lama itu membuat ane mantap memilih nasyid sebagai jalan hidup. Sama seperti Aris, rekan ANN Jateng yang sama tuanya dengan ane. Jika mantan ketua ANN Jateng itu tergolong cukup mulus dalam berkarir di nasyid, jalan ane sedikit bergelombang.

Dimulai dari bernasyid di SMA dan menjuarai Festival. Waktu itu ane bukanlah kalangan musisi. Pure Rohis. Jangan tanya bisa main alat musik apa, karena ane pasti speechless jawabnya. Tidak ada satupun yang bisa ane kuasai. Hebatnya, ane didaulat menjadi suara dua dalam choir (Kalo suara choir itu do mi sol, ane ngambil suara Mi). Posisi yang sebenarnya lebih cocok bagi mereka yang tahu alat musik, karena lebih peka nada. Tak mau mundur, ane mencoba posisi itu. Caranya, ane dengerin terus lagu nasyid dan fokus di suara duanya. Sampai-sampai kakak kelas bingung. Kok di sebuah lagu, ane bagus suara duanya. Di lagu lain jelek. Jawabannya simpel : ane Insya Allah bagus suara duanya di lagu yang sudah ane dengerin berulang-ulang suara duanya he he. Buat yang belum? Ya sori mayori yah.

Karir ane di nasyid berlanjut di nasyid kampus. Tim pertama ane namanya Suara Pujangga. Bertahan hampir lima tahun dan nyaris mencapai puncak, generasi emas tim itu satu persatu mundur. SP pun terancam bubar. Sangat menyesakkan. Sekian waktu ane bingung harus bagaimana. Tapi, dipikiran ane hanya menyelamatkan SP. Demi kaderisasi, ane mundur dari tim itu dan belajar menjadi pembimbingnya.

Awalnya ane intens di tim Syahdu. Tapi, jalan lain mengarahkan ane ke Awan. Tepatnya saat Awan mulai mencapai puncak, mendadak personil Awan untuk suara dua mundur. Ane didaulat untuk menjadi pengganti. Ane sih pede-pede aja, karena personil Awan yang lain juga gak kalah tuanya he he (jika dibandingkan tim ANN Jateng lain).  Namun bergabung di Awan membuat saya stress bolak-balik. Berkali-kali, isu Awan bubar mengguncang. Tapi, karena rahmat-Nya Awan masih bertahan.

Sebuah pencapaian juara FNPI 2 dan membuat album mandiri tercapai di penghujung kepala dua usia ane. Membuktikan meski ane bukanlah musisi atau anak band, hanya pake feeling, ane juga bisa berkontribusi bagi dakwah. Bukan  juara FNPI-nya yang penting, tetapi yang penting adalah ketika dengan juara itu ane bisa berdakwah lebih luas. Tak peduli jika Ane sekarang mulai menjelang kepala tiga. Yang penting selama masih bisa berdakwah di sana, ane akan terus menjadi tua-tua kelapa. Makin tua, makin maknyuss santannya he he.

CS Awan: Tamparan Pipi untuk Jalan Lurusku

Chicken Soup-nya ANN Jateng Edisi Spesial AWAN
Volume 1: Kisah Kiki Awan (Lead Vocal)

Namaku Abdulah Rizki Nopandi. Panggilan sayangnya Ablah. Panggilan romantisnya Kiki Awan. Tinggi 160-an, putih, rambut ikal, dengan bahasa ngapak sebagai bahasa kerajaanku (gak penting he he).

Hobiku tentu saja bermusik. Tak heran, karena kepintaranku bermusik, banyak wanita-wanita yang mengagumiku. Alhasil, di kotaku aku dikenal sebagai salah satu Mister Penakluk Hati Sang Venus. Hm, gelar yang terasa keren bagiku dulu.

Saking hobinya bermusik, aku sampai memiliki band yang cukup punya nama di kotaku. Alirannya cadas, man! Dulu aku tak canggung bergoyang-goyang asyik di panggung. Sampai akhirnya semuanya berbalik 180 derajat.

Sebuah selebaran open recruitment Nasyid menarik hati teman dekatku. Karena tahu aku suka musik, dia mengajakku untuk ikutan audisi nasyid. Jreng!! Tak terduga aku diterima. Masuk ke sebuah tim yang bernama Awan wan wan.

Dulu belum terpikirkan bagiku untuk serius di dunia ini. Latihan saja masih pakai celana pendek. Tapi, kok lama-lama asyik juga ya. Aku makin serius menekuni. Dan itu membuatku terseret makin jauh ke dalam dakwah Islam. Tidak hanya nasyid, aku juga serius menekuni mentoring dan halaqoh. Naasnya, eh salah, beruntungnya semua teman mentoringku orang yang alim, kecuali aku huahahah. 

Sampai tiba masanya, kajian itu menceritakan tentang bagaimana hubungan muhrim dan non muhrim. Aku terdiam dan merinding disko. Speachless karena ternyata hubungan itu betul-betul diatur sampai ke jenjang pernikahan. Tidak halal seorang wanita bagi pria non-muhrim di luar pernikahan. Padahal, layaknya seorang pemuda, masih semangat dan ganteng lagi (he he he, becanda), aku memiliki soulmate alias wanita tambatan hati.

Mendengar kajian itu, aku jadi termenung sendiri. Memang sih, tidak ada yang neko-neko dalam hubunganku dengan si doi. Tapi sebagai pria normal, aku tentu tak bisa memprediksi sampai berapa lama itu bertahan jika tidak diikat dengan ikatan halal. Bisa saja aku dan dia melakukan ini itu, dengan alasan sudah lama dan saling cinta.

Akhirnya aku memantapkan hati untuk berpisah (hiks hiks, eh, hore! Alhamdulillah) dengan sang pujaan hati. Selayaknya sinetron, si doi shock berat. Pelan dia berkata,

“Mas, boleh aku menamparmu?” Aku jadi terdiam dengan pertanyaan horror itu. Plak! Dia menamparku. Uh, sakit banget. Tapi, aku ikhlas. Memang hubunganku dan dia putus. Tapi semoga membuatku yakin menapaki jalan lurus, mempererat hubunganku dengan-Nya.